Bersama Berbagi Informasi

RSUD Adjidarmo Dalam Rentang Sejarah

0 253

 


Bantenshare.com,Lebak–Bagi warga lebak atau rangkasbitung sekitarnya nama rumah sakit umum adjidarmo sudah tidak asing lagi. Rumah sakit yang berdiri kokoh di pusat kota ini merupakan kebanggaan warga lebak.

Kendati rumah sakit ini tidak dibangun di zaman kolonial namun rumah sakit ini bagi warga lebak sudah dianggap sebagai bangunan bersejarah yang ikonik.

Ginanjar selaku ketua komunitas pemerharti cagar budaya (pancadaya) mengatakan, awalnya rumah sakit umum ini didirikan tanggal 1 mei 1952 di prakarsai oleh dr Adjidarmo. Pada saat didirikan rumah sakit ini hanya memiliki dua orang dokter yaitu dr Adjidarmo dan dr Hank (seorang dokter dari jerman) yang kemudian dibantu oleh beberapa orang tenaga medis.

Dengan tenaga medis dan fasilitas yang ada, rumah sakit ini senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat lebak.Dikutip dari https://rsud-adjidarmo id. Dalam rentang sejarah perjalananya rumah sakit ini dipimpin oleh dokter-dokter terbaik yang memiliki kapabilitas dan integritas, berikut adalah nama-nama dokter/orang yang memimpin dan juga periode kepemimpinannya di rumah sakit, mereka adalah:

1. Dr Adjidarmo (1952-1958)
2. Dr Soewarto (1958-1961)
3. Dr Lim teng jin (1961-1962)
4. Dr Soeranto (1962-1971)
5. Dr H Karsadi (1971-1981)
6. Dr. H Haikin Racmat (1981-1983)
7. Dr. H. Karsadi SKM (1983-1985)
8. Dr. Hj Rosma yeni S anwar (1983-1994)
9. Dr Hj Farida salim (1994-1999)
10. Dr H Noor sardono M.Kes (1999-2004)
11. Drg Indra lukmana (2004-2016)
12. H.M Sukirman M.Si sebagai Plt direktur (2016-2018)
13. Drg Arief rahmatullah (2018-2019)
14. Ir Hj Virgoyanti (2019-2020)
15. dr Anik sakinah M.Si (2020- sekarang)

Kemudian pada tahun 1984 Rumah sakit umum daerah kabupaten lebak ini yang sebelumnya merupakan rumah sakit kelas D, ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C berdasarkan peraturan daerah nomor 2 IPD-DPRD/1984 dan surat keputusan gubernur kepala daerah TK I jawa barat nomor 118-342/SK1132.HNK/84 tertanggal 20 juni 1984.

Lanjut Ginanjar menjelaskan melalui Perda lebak no 29 tahun 1996 ditetapkanlah dokter Adjidarmo sebagai nama rumah sakit umum daerah kabupaten lebak. Kemudian dikenalah sebutan RSUD Adjidarmo.

Kemudian berdasarkan keputusan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 651/Menkes/SK/VII/2008 tanggal 16 juli 2008 tentang penetapan kelas RSUD Adjidarmo lebak banten, maka rumah sakit ini mendapatkan predikat peningkatan kelas dari kelas C ke kelas B yang ditindaklanjuti dengan Perda no 10 tahun 2008 tentang pembentukan, organisasi dan tata kerja RSUD Dr Adjidarmo. Sampai saat ini rumah sakit ini terus beroperasi dengan baik, dengan pelayanan yang prima, fasilitas yang mumpuni dan saat ini rumah sakit ini menjadi kebanggaan warga lebak.

Ginanjar menjelaskan bagi pecinta sejarah dan cagar budaya keberadaan RSUD Adjidarmo tak bisa dilepaskan dari lingkup kesejarahan lebak karena secara tidak langsung pun di areal Rumah sakit terdapat rumah dinas asisten residen douwes dekker yang fenomenal, dan saat ini rumah dinas tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya. Ketika para pecinta sejarah dan wisatawan berkunjung ke rumah dinas multatuli maka secara bersamaan mereka pun akan turut juga mempelajari sejarah RSUD Adjidarmo.

“Saya berharap agar para generasi muda pun mau belajar tentang sejarah RSUD Dr Adjidarmo ini karena rumah sakit ini adalah rumah sakit kebanggaan warga lebak, bernilai sejarah dan sangat ikonik,” tandas Ginanjar.

Sementara Haodudin selaku direktur Banten heritage mengatakan keberadaan RSUD Adjidarmo selain sebagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, rumah sakit ini pun menjadi ikon sejarah juga karena memiliki nilai sejarah.

“Rumah sakit ini merupakan kebanggaan warga lebak dan saya berharap agar para generasi muda dapat mengetahui sejarah RSUD Dr Adjidarmo ini,” pungkasnya (Teguh setiawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.