Bersama Berbagi Informasi

Puisi: Saripati yang diambil kumbang di penghujung malam

0 63

 


Banyak gadis menikmati sunyi dengan senja, berharap abadi sampai binasa.
Berharap mati dengan penantian, malam menjelang timbul kesengsaraan.
Keterlambatan hasil dari kenikmatan, gadis murung ditikam seribu alasan.
Senja menawarkan keindahan, terbius larut dalam keceriaan.
Mengundang usap tangis penutupan, matahari terbenam kenikmatan pun usai.
Bersembahyang penuh dengan paksaan, karena iming-iming pertanggungjawaban.
Gadis tergeletak, memungut cinta yang penuh luka.
Memakan tutur lembur penuh dusta sang perkasa _berkata_. Memainkan kata beribu makna, terhempas lemas dengan begitu terpikat. Lugas dan cekatan, gadis pun terikat tanpa tahu melepaskan.
Cinta merupakan iming-iming mendapatkan gratisan, gadis jatuh dalam pelukan.
Malam larut dengan penyesalan, menanti pagi dengan segudang harapan.
Menanti lelaki yang datang memungutnya dari tidur panjang larut malam.
Terbius masa lalu dengan penuh siksaan, suram tanpa pelita penerang.
Bintang-bintang jauh dari pandangan, terbuai hasrat untuk bertikai dengan kesenangan.
Membuka hari dengan penderitaan, demi menjadi diri yang tahan cobaan.
Pemungutan etika yang dulu berserakan, setelah dihancurkan atas nama percintaan.
Menanti ditengah kesepian, malam terlarut dengan tangisan.
Esok pagi adalah pengharapan, mengubah diri dan menyambut pagi.
Dengan diri yang meski tak utuh lagi, tapi cinta-Nya selalu memberikan keikhlasan hati.

23-06-2019

Penulis, Diki Fiska priadi merupakan Mahasiswa STKIP Setia Budhi Rangkasbitung program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester IV (empat) dan aktif di PMII Lebak

Leave A Reply

Your email address will not be published.