Bersama Berbagi Informasi

Kisah Dibalik Menara Air, Bangunan Indah Peninggalan Belanda di Rangkasbitung.

0 233

Bantenshare.com,Lebak–Menara air merupakan salah satu bangunan indah bersejarah peninggalan hindia Belanda di Rangkasbitung. Hal tersebut dikatakan oleh Ginanjar selaku ketua komunitas pemerharti cagar budaya atau yang biasa di sebut komunitas pancadaya.

“Ada banyak peninggalan zaman hindia Belanda di Rangkasbitung salah satunya adalah menara air, bangunan ini sangat indah,” ujarnya.

Lanjut Ginanjar menjelaskan bahwa bangunan ini merupakan bangunan terbesar dan terindah peninggalan zaman kolonial hindia Belanda yang tersisa di kota Rangkasbitung.

Bangunan yang tinggi menjulang ini terletak di pusat kota yaitu di taman makam pahlawan, tepatnya di jalan raden tumenggung hardiwinangun no 4, kampung pasir tariti RT 01 RW 03 Kelurahan Rangkasbitung Barat, kabupaten Lebak.

Bangunan ini dibuat secara presisi nan indah, berdiri kokoh diatas lahan 200 meter persegi dengan ketinggian bangunan 9 meter, bangunan ini dibuat dengan seni arsitektur berbentuk silinder dengan bagian atas berbentuk oktagon (segi delapan), bangunan ini sengaja dibangun di atas tanah yang tinggi sehingga mampu menampung dan mengalirkan air dengan memanfaatkan tekanan air sehingga tidak perlu menggunakan mesin.

Ginanjar menjelaskan bahwa bangunan ini dibuat oleh pemerintah hindia belanda pada tahun 1931 diresmikan dengan nama “watertoren te rangkasbetoeng”, pada masa perkembangan watertoren ini dikelola oleh perusahaan hindia belanda yang bernama waterleideng bedrijf tujuannya ialah berusaha menyediakan suplay air bersih untuk wilayah Rangkasbitung, dengan mendirikan menara air berkapasitas 4 liter per detik.

Setelah Jepang menduduki Rangkasbitung, perusahaan air minum belandaa ini kemudian diambil alih oleh Jepang, dan diganti namanya menjadi “Suido Syo”. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Republik Indonesia segera mengambil alih Perusahaan Air Minum ini dari kekuasaan Jepang. Kemudian berganti nama dari “Rangkasbitung Suido Syo” menjadi “Kantor Air Minum Rangkasbitung”. Sejak tahun 1970-an, menara air ini sudah tidak difungsikan lagi, namun bangunannya masih dirawat dan dipelihara oleh Kantor Air Minum Rangkasbitung yang mulai tahun 1988 berganti nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan kemudian menjadi PDAM Tirta Multatuli Kabupaten Lebak.

Menara air ini dulunya digunakan sebagai bak penampung atau reservoir yang fungsinya sebagai penampung atau penyimpan air yang sumber air bakunya langsung berasal dari mata air Ciwasiat di lereng Gunung Karang (Pandeglang). Selain itu, menara air ini juga berfungsi untuk mengatasi masalah naik turunnya kebutuhan air dan merupakan bagian dari pengelolaan distribusi air di masyarakat Rangkasbitung pada zamannya.

Setelah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya,
Kini keberadaan water torn ini berfungsi sebagai destinasi wisata, banyak diantaranya para wisatawan yang berkunjung ke menara air water torn ini dengan tujuan wisata, sementara pemerintah daerah dalam kegiatan tahunan festival seni multatuli, menara air ini dimasukan dalam destinasi telusur sejarah.

“Saya berharap agar semua fihak bisa saling bekerjasama guna menjaga dan merawat bangunan cagar budaya bersejarah ini, dan jika perlu materi sejarahnya bisa dimasukan dalam kurikulum muatan lokal untuk anak-anak pelajar saat ini,” tandas ginanjar.

Sementara Haodudin selaku pengamat sosial budaya dari Banten heritage mengatakan water torn ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang perlu dijaga dan dirawat karena gedung atau bangunan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Bangunan ini milik kita semua khususnya warga lebak, saya berharap agar kita semua bisa menjaganya demi terjaganya nilai sejarah dan peradaban sehingga bisa diambil hikmahnya untuk anak cucu kita kelak,” pungkasnya. (Teguh setiawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.