Bersama Berbagi Informasi

Gardu sebagai Ruang Rakyat

0 56

 

Oleh :
Try Adhi Bangsawan
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.



Gardu telah mewarnai sejarah bangsa Indonesia, bangunan berukuran (rata-rata) 4×4
meter ini banyak dijumpai di Indonesia. Mulai dari perkotaan, sampai dengan pelosok pedesaan.
Karenanya, gardu penting dibicarakan atau diulas kembali secara filosofi, sebagai sebuah refleksi jelajah, gardu
dimasa lalu dan sekarang.


Kehadiran Gardu telah memberi banyak manfaat sosial bagi warga. Salah satunya adalah
menjaga kampung (ronda). Kebiasaan ini mendorong warga untuk saling berbicara tentang
fenomena sosial yang terjadi sehari-hari. Mengamankan kampung misalnya, untuk menangkal
aksi kriminalitas seperti pencurian, peredaran narkoba, dan lainnya.


Berjalannya waktu, saya semakin yakin kalau Gardu akan mengalami sepi pengunjung.
Semisal begini, saya membayangkan ketika warga di perkotaan besar seperti Jakarta dan
sekitarnya. Yang bekerja mulai dari jam 08.00 pagi, sampai dengan jam 16.00. Warga harus
berangkat dari rumah pada pagi hari, menembus segala kemacetan dan hiruk-pikuk Ibu Kota, dan
sampai di rumah ‘kemungkinan’ pada malam hari. Muka sudah lesu, cape, tugas kantor yang
numpuk, belum persoalan cicilan rumah, biaya pendidikan anak, salon istri, biaya motor dan
lain-lain. Artinya, pada saat itu pula tidak ada waktu untuk sekedar ngobrol dengan tetangga,
atau menghabiskan waktu di Gardu dengan warga lainnya.


Di perkampungan, Gardu masih menjadi tempat yang diminati untuk menghabiskan
waktu pasca beraktivitas siang hari. Kehidupan di kampung jauh berbeda dengan di kota. Tidak
mengenal macet, sehingga perjalanan tidak menghabiskan banyak energi, dan malamnya masih
bisa berkomunikasi dengan warga atau tetangga. Lanjut, kemajuan teknologi sudah tidak dapat
diragukan lagi, banyak kerja manusia yang sudah digantungkan pada kecanggihan teknologi,
atau bermain gadget untuk mengganti kegiatan hiburan seperti gapleh, main remi, krambol di
Gardu. Hal ini sudah merangsek masuk di wilayah perkampungan.
Keamanan lingkungan bukan saja tanggungjawab pihak keamanan seperti polisi, TNI,
dan lain-lain, akan tetapi tanggung jawab bersama warga.


Persoalan keamanan, Gardu telah
dilengkapi dengan sistem android. Seperti yang ditemukan di RT 23 RW 07 Kelurahan .
Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo. Warga kampung ini membuat inovasi dengan menerapkan
sistem Android sederhana dalam memantau keamanan lingkungan yang diberi nama Sistem
Keamanan Warga (SIKARA). Cara kerja dari sistem ini juga sangat canggih, tidak kalah dengan
sistem keamanan sebuah Negara, dimana setiap sudut perkampungan di lengkapi dengan CCTV,
sehingga semua warga dapat memantau secara langsung, dan jika terjadi hal-hal yang dicurigai,
maka warga akan menekan tombol Panic Button untuk memberitahukan pada yang lain
(Suparno, 2018).
Tetapi apakah mungkin sistem ini dapat diterapkan di perkampungan yang jauh dari
jangkauan signal telekomunikasi?, Saya rasa tidak. Nah, di perkampungan tanda bahaya ini
ditandai dengan sebilah bambu atau kayu, yang ketika di pukul akan bersuara tung…tung. Hal
ini bisa menandakan dua hal, pertama, bahwa masih ada warga yang melakukan ronda. Kedua,
bahwa ada tanda bahaya atau panic button. Kalau mau dikuliti lebih dalam lagi, lebih dulu
kentongan atau sistem android? Kentongan lebih dulu, jadi sistem android yang mengikuti cara
kerja kentongan. Serupa tanda, bahwa daur ulang pengetahuan masuk pada sendi yang kadang
luput dari perhatian.

Lanjut, Kedatangan VOC telah mengubah fungsi gardu. Perebutan hegemoni VOC atas
kerajaan tradisional membuat kuasa kerajaan berangsur melemah. VOC mempersempit kuasa
keraton dengan membagi wilayah koloninya secara administratif. Batas-batas administratif desa
dan kampung menjadi lebih jelas. Sebagai penegasnya, VOC mendirikan gardu jaga di tiap
kampung dan desa. Daendels membagi Jawa menjadi sejumlah Karesidenan untuk
mempermudah pengawasan pembangunan Jalan Raya. Dia memerintahkan pembangunan Gardu
pada setiap interval tertentu untuk menjaga keamanan pembangunan. Serampungnya
pembangunan, Gardu itu berkembang menjadi tempat ganti kuda bagi musafir di sepanjang jalur
tersebut (Hanggoro, 2019).


Penggunaan Gardu sangat fleksibel, beda belanda, jepang, dan orde baru memanfaatkan
fungsi dari pos ronda. Jaman jepang misalnya, Gardu berhasil dimanfaatkan oleh jepang untuk
kepentingan mengatur warganya. Hal ini dilakukan dengan membentuk keibodan atau barisan
pembantu polisi yaitu warga setempat. Jepang hanya mampu mengambil alih Gardu kurang lebih
3,5 tahun, dan berhasil direbut oleh warga saat mendukung proklamasi 17 Agustus 1945. Dan
Gardu milik warga, sekaligus menjadi posko perlawanan warga atas berbagai upaya masuknya

tentara jepang dan sekutu. Lain di jaman orde baru, Gardu digunakan sebagai pos pengamatan
untuk warganya sendiri (Hanggoro, 2019).
Gardu telah banyak mewarnai sejarah kehidupan panjang bangsa Indonesia. Seperti yang
sudah dibahas diatas, mulai dari perebutan Gardu oleh pemerintah kolonial Belanda, oleh
Jepang, juga orde baru. Ada perebutan kekuasaan atas Gardu disana. Hak warga, kolonial
Belanda, Jepang, Orde baru, berebut kuasa atas Gardu.
Gardu sebagai ruang politik warga. (Mathew, 2014), Harwood mengatakan bahwa
melihat orang dapat berkumpul dan bekerja bersama-sama juga merupakan tujuan dari politik.
Dalam hal ini, ketika gardu dijadikan sebagai medium dialog untuk menyelesaikan berbagai
persoalan yang nyata dalam kehidupan masyarakat, itu berarti gardu telah menjadi ruang politik
di tataran akar rumput.

Penguatan ruang di akar rumput juga akan membantu keutuhan
demokrasi, warga sudah terbiasa dengan berbagai dialog dan menyuarakan harapan terhadap
tatanan sosial yang berkeadilan.
Gardu, ditengah kehidupan dunia yang semakin pelik. Gardu yang masih digunakan oleh
banyak masyarakat Indonesia sebagai ruang pertemuan kiranya dapat berkontribusi pada
keutuhan gotong royong yang sudah sejak dulu menjadi ruh bagi setiap urusan yang menerpa
bangsa Indonesia.
Selain itu, disinyalir Sarekat Islam lahir dari kelompok ronda yang mengamankan sutau
wilayah di Solo. Rekso Roemekso, adalah laskar keamanan yang beranggotakan mayoritas
pedagang batik asal Laweyan, Solo. Tugas utama perkumpulan ini adalah menjaga keamanan di
kawasan sentra produksi batik itu. Namun, Rekso Roemekso juga mengemban misi yang jauh
lebih penting ketimbang sekadar perkumpulan ronda. Samanhoedi sengaja membentuk
organisasi itu untuk melawan dominasi para pedagang keturunan Tionghoa di Solo yang
bernaung pula di perhimpunan serupa bernama Kong Sing, hingga pada akhirnya Rekso
Roemakso menjadi Sarekat Islam sebuah organisasi massa yang melawan kolonial (Raditya,
2017 ).
Begitu banyak peran gardu dalam sejarah bangsa Indonesia. Pelik situasi politik telah
menyeretnya jauh melampaui luas bangunannya. Gardu tak boleh menjadi bangunan yang
berfungsi apa-apa, bahkan dirasa gardu akan membawa masyarakat yang aktif melakukan dialog
atas segala persoalan yang terjadi di kehidupan masyarakat. Karenanya, gardu harus terus
diaktivasi.

Referensi:
Hanggoro, H. T. (2019). Melihat Indonesia Melalui Pos Ronda. Jakarta: Historia.id.
Mathew, D. (2014). Ekologi Demokrasi: Demokrasi Deliberatif dan kekuatan Warga. Jakarta : PARA
Syndicate.
Raditya, I. N. (2017 ). Rekso Roemekso, Ormas Keamanan Menjelma Sarekat Islam. Jakarta : tirto.id.
Suparno. (2018). Poskamling Zaman Now, Warga Ronda Bareng Pakai Android. Jawa Timut: detik.com.

Leave A Reply

Your email address will not be published.