Bersama Berbagi Informasi

Bunker Jepang, Sisa Peninggalan Masa Pendudukan Jepang Di Rangkasbitung

0 334


Bantenshare.com,Lebak–Keberadaan masa pendudukan jepang sebelum kemerdekaan di rangkasbitung bisa di lacak dari bangunan bersejarah yang mereka tinggalkan yaitu Bunker jepang. Hal itu dikatakan oleh ginandar selaku ketua komunitas pemerharti cagar budaya (Pancadaya) kepada bantenshare.com dalam wawancaranya pada jum’at (3/7) lalu.

“Di rangkasbitung ini ada banyak peninggalan masa pendudukan jepang, salah satunya yaitu bunker jepang,” ujarnya.

Lanjut ginandar menjelaskan bahwa di kabupaten lebak ini khususnya rangkasbitung terdapat bangunan sisa peninggalan masa pendudukan jepang, bangunan tersebut ialah bunker jepang, yang berlokasi di kampung pasir tariti, kelurahan rangkasbitung barat kecamatan rangkasbitung kabupaten lebak. Bunker tersebut letaknya tepat dibelakang pekarangan belakang SDN 2 Rangkasbitung barat.

Tercatat bunker jepang tersebut merupakan bangunan militer jepang yang dibuat dengan fungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan perang dan tempat pengintaian, selain itu juga berfungsi sebagai tempat berlindung. Dilihat dari segi arsitekturnya bangunan bunker tersebut dibuat berbahan cor semen padat dengan split batu belah, berdenah persegi dengan orientasi mengarah ke timur laut, didasar timur laut terdapat cerukan dan didasar barat daya juga terdapat cerukan. Atap objek terdapat dua buah lubang pipa besi di sisi timur dan barat daya, kondisi objek (bangunan-red) utuh terkubur tanah urugan oleh sebab itu ukuran presisi bunker belum dapat dipastikan secara pasti, kemudian pintu masuk bunker berada di sisi tenggara dengan sebuah engsel besi.

Bunker di bangun pada tahun 1942 pada masa pendudukan jepang dan difungsikan untuk keperluan militer.

Pria yang juga berprofesi sebagai edukator di museum multatuli ini menambahkan bahwa di lebak atau sekitar rangkasbitung terdapat empat bunker yang tersebar di beberapa wilayah, diantaranya ialah 1) pasir tariti (lokasinya dibelakang SDN 2 Rangkasbitung), 2) Kampung Muhara (lokasinya dekat pemukiman warga), 3) Kampung Muhara (lokasi akuratnya ditengah-tengah perpaduan sungai ciujung dan ciberang), dan 4) Disekitaran bantaran sungai ciberang.

Seiring berjalannya waktu kondisi bunker saat ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi zaman dahulu kala, saat ini 80 persen kondisinya tidak menyerupai kondisi pada saat dibangun, contohnya ialah bunker yang berada di kampung pasir tariti, sebagian badan bangunannya terkubur oleh tanah urugan, kemudian untuk bunker di kampung muhara posisi bangunan beralih fungsi menjadi tempat sampah dengan banyak sekali coretan-coretan dibadan bangunannya, kemudian untuk bunker yang disekitar bantaran sungai posisinya sudah total terendam air sehingga tak terlihat lagi.

Sementara Haodudin selaku pengamat budaya dari Banten Heritage mengatakan bahwa keberadaan bunker di kota rangkasbitung ini merupakan warisan cagar budaya yang perlu dirawat secara baik karena hal ini merupakan sejarah yang kelak akan di ceritakan kepada anak cucu generasi mendatang.

“Saya berharap agar bunker-bunker ini bisa dirawat secara baik, dan semua ini diperlukan sinergitas dari semua fihak baik itu pemerintah,masyarakat dan juga para pemerharti cagar budaya, semoga kita semua bisa menjaga warisan sejarah ini agar tetap utuh dan bisa diceritakan pada anak cucu kita kelak,” pungkasnya (Teguh setiawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.