Bersama Berbagi Informasi

ISU DAN KEBIJAKAN STRATEGIS MUSEUM DAERAH

0 99

Moh Ali Fadillah

  1. PENGENALAN

Gejala globalisasi yang paling kentara merambah kebudayaan tampak pada perhatian dunia terhadap warisan budaya berbagai kelompok etnik di Indonesia, termasuk didalamnya Banten, baik yang bersifat tangible maupun intangible. Beberapa aspek dari isu global itu dapat diformulasikan sebagai isu strategis dalam kerangka pengembangan kebudayaan daerah termasuk didalamnya pengembangan museum di daerah.

Referensi:

John N. Miksic. 1992. “Artifact and Site Museum in Banten Lama”, SPAFA Workshop  on Archaelogical Conservation, Serang: unpublished paper.

  1. ISU STRATEGIS

ISU PERTAMA terfokus pada “penetapan” berbagai unit budaya tertentu, apakah itu masyarakat adat ataukah peninggalan sejarah dan purbakala. Keduanya dapat dimasukkan ke dalam kategori cultural world heritage.

Nilai strategisnya terletak pada implikasi external benefits dan sekaligus membawa dampak pada penguatan jati diri:

     (1)   Status cultural world heritage akan memberi rasa ‘bangga’ kepada pewaris kebudayaan sekarang, baik sebagai pribadi, kelompok maupun bangsa, karena secara tersirat seluruh masyarakat dunia pun merasa memiliki tradisi peradaban besar itu. Konsekuensi dari sense of belonging itu dalam segi ekonomis amat menguntungkan, karena dimungkinkan mengalirnya bantuan teknis dan finansial kepada negara di mana warisan budaya itu berada.

     (2)   Dengan penetapan cultural world heritage, akan terjadi pengalihan ‘kepemilikan’ dari lokal, daerah, atau nasional menjadi dunia (internasional). Tentu saja kecenderungan itu bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dipikirkan dampaknya pada semakin terbatasnya akses sosio-kultural bagi pemilik aslinya. Masalah yang harus dicermati adalah apabila suatu warisan budaya telah menjadi kebanggan semua orang, ia bisa saja tidak lagi efektif menjadi referensi ‘jati diri’ atau ‘identitas budaya’ pewarisnya semula.

Referensi:

      (1)    Roland Silva, Man and the wonders of the archaeological world (1999) bahwa warisan budaya itu kini dipandang sebagai a product of the highest achievement of the most evolved creature in the universe,

    (2)   Stephen Hill, “UNESCO’s role in creating the wonders of the future” (1999) yang memprediksikan warisan itu akan menjadi belongs to the peoples of the world, irrespective of the territory on which the sites are located.

      (3)    Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geo-Park).

Pendalaman Isu

     Bagaimana nasib warisan budaya Banten, baik berupa tinggalan arkeologi, sejarah, tradisi maupun warisan hidup yang berupa berbagai karya seni dan ritual keagamaan, yang beberapa diantaranya patut dipertimbangkan menjadi national (or world) cultural heritage menyusul status Taman Nasional Ujung Kulon yang telah lama menjadi natural world heritage, kemudian menjadi bagian dari Geopark (Taman Bumi) dengan beberapa geo-sitesnya di Kab. Pandeglang, dapat diapresiasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat Banten sendiri?

    Apakah masyarakat Banten cukup puas dengan menjadikan warisan itu dalam fungsi simboliknya? Dan sejauhmana warisan budaya (yang terasosiasi dengan natural heritage) itu dapat dikelola untuk kepentingan lebih luas (multi-purposes) dalam dinamika Provinsi Banten yang sedang membangun di tengah gejolak global? Sekarang ini masyarakat perlu, lebih tepatnya ‘berhak’ memberi makna baru dan menerima manfaat dari warisan alam dan budaya tersebut.

Silakan beri komentar terhadap Isu Pertama. Ringkas dan jelas ……!

ISU KEDUA, melalui berbagai perangkat internet memungkinkan interaksi antar-manusia semakin cepat dan luas dalam berkebudayaan.  Komunikasi antar-budaya dimungkinkan oleh keberadaan budayawan, peminat budaya atau pakar kebudayaan.  Apabila berbagai informasi budaya telah tersusun dan menjadi subyek dalam jaringan itu maka informasi ini akan mudah diakses secara luas, dipertukarkan dan bahkan dikaji bersama oleh para ahli serta diapresiasi oleh para peminat dari berbagai belahan dunia. 

Nilai strategis dari isu tersebut adalah: 

     (1)   Kebudayaan harus dipandang sebagai “sumberdaya yang dapat dikembangkan demi kepentingan semua orang” (culture for all). Memang sosoknya lebih abstrak tetapi sesungguhnya kebudayaan itu adalah sumberdaya yang renewable, karena jika pengelolaannya dilakukan dengan baik, maka kebudayaan akan berkembang menunju puncak kemajuan peradaban sebagai individu ataupun kelompok.

    (2)   Kecenderungan itu akan relevan dengan konsep “pembangunan berkelanjutan” seperti diamanatkan dalam Rio Summit (Juni 1992 lalu) melalui Agenda 21 Global yang menyepakati sebuah “cita ideal pembangunan bangsa-bangsa di dunia dalam yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan didukung pula oleh semangat good governance.

Referensi:

    (1) Rio Summit (Juni 1992), Agenda 21 Global: Tourism sector, UNDP.  

     (2) Saut M. Lubis (et.al). 1998, Indicator of Sustainable Development, Guidebook for Sustainable Development Planning, Jakarta: Sectoral Agenda 21 Project, Cooperation between The State Ministry of Environment and UNDP. 

    (3)  Roby Ardiwidjaya. 2004. Sustainable Tourism Development in Indonesia, Jakarta: Kemenbudpar.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.