Bersama Berbagi Informasi

Baris Olot

0 106

Penulis : DC Aryadi 

Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang mempunyai khodrat selalu memerlukan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan lainya. Dalam diri manusia terdapat kecenderungan – kecenderungan bernaruli. Salah satu kecenderungan tersebut adalah kecenderungan sosial yang merupakan kecenderungan untuk mengabungkan diri dengan individu lainya dalam bentuk kelompok.
Naluri manusia untuk selalu hidup untuk orang lain di sebut gregario usnes , dan karna itu manusia juga di sebut zoon politicon social animal (hewan sosial) hewan yang mempunyai naluri untuk hidup bersama (arisoteles, dalam biertens 1970:272). Oleh karenanya manusia sejak lahir sudah mempunyai dua hasrat pokok, yakni keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingiya ( masyarakat) dan keinginan menjadi satu dengan suasana alam disekelilinganya. Semua itu menimbulkan kelompok kelompok sosial ( social group ) dalam kehidupan manusia.kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama.
Suatu kelompok sosial atau grup juga merupakan suatu masyarakat,karna memenuhi syarat-syarat; dengan adanya sistem interaksi antar para anggota.dengan adanya sistem adat serta sistem norma yang mengatur interaksi itu; dengan adanya kontinuitas serta dengan adanya prasa identitas yang tadi, suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok ,juga mempunyai ciri tambahan,yaitu organisasi dan sistem pimpinan yang selalu tampak sebagai suatu kesatuan dari individu-individu pada masa-masa yang secara berulang berkumpul dan yang kemudian bubar lagi.
Kedua ciri khas tersebut sebenarnya juga dimiliki oleh kesatuan manusia yang paling besar, yakni negara.namum istilah kelompok tidak dikenal dalam negara.berpijak dari sifat dan nilai-nilai sosial seperti telah dikemukakan di atas, maka akan menimbulkan kecenderungan-kecenderungan manusia untuk hidup bersama dan menciptakan realitas sosial. Setiap masyarakat mempunyai nila-nilai sosial yang mengatur tatanan hidup yang ada dalam kelompok masyarakat, dimana individu itu berbeda.
Pola-pola tindakan manusia dapat berubah dengan lebih cepat dari pada perubahan bentuk organismenya ,hal ini disebabkan oleh adanya hasil pelajaran dari manusia. Proses perubahan pada suatu kolektif / kelompok manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Oleh karana itu aneka warna tingkah laku manusia tidak disebabkan oleh ciri-ciri ras, melainkan karna kolektif-kolektif dimana manusia bergaul dan berintraksi.
Kelompok sosial terbentuk sebagai hasil dari proses interaksi individual yang berkelangsungan.namun setelah terbentuk pola-pola ketertiban antar hubungan, maka perilaku individu-individu dipengaruhi dan ditentukan oleh sistem yang mereka ciptakan
sendiri hal tersebut dapat dilihat dari teori interaksi ( interaction theory ) yang merupakan kombinasi dari dua pendekatan yang berhubungan erat, ( teori tindakan yang dikemukakan oleh talcott parsons dan teori interaksi simbolik yang bersumber pada karya george herberet meed ).kedua aliran pemikiran ini berbeda dalam titik tolak pandangannya terhadap kehidupan sosial.namun terlepas dari perbedaan tersebu, keduanya justru saling melengkapi dan memberikan gambaran yang utuh tentang keseluruhan kehidupan sosial.
Dari pandangan pemikiran ini tampak bahwa kelompok dipandang sebgai suatu penomena yang selalu berubah, sesuai dengan interpretasi –interpretasi terhadap situasi lingkungan.dengan demikian pula maka kelompok dipandang selalu berada dalam keadaan ‘on going ‘ sesuai dengan interpretasi-interpretasi dalam intraksi para anggota kelompok satu sama lain dan dalam intraksi kelompok dengan lingkungannya.
Telah ditegaskan di atas bahwa setiap masyarakat mempunyai nilai-nilai sosial yang mengatur tata kehidupan yang ada dalam kelompok sosial dimana individu itu berada.hal tersebut juga dapat dijumpaipada kelompok masyarakat baduy di pegunungan kendeng banten selatan. Meskipun mempunyai ciri khas tersendiri terutama dalam masalah pola hidup yang perubahannya sangat lambat. Justru ciri khas ini yang menjadi salah satu fokus perhatian.
Dalam karyanya yang Berjudul Sistematic Society, Leopoled Vont Wies & Hoard Becker, mencoba mengembangkan analisisnya lebih jauh tentag tipe-tipe kelompok sosial . Dimana tipe-tipe kelompok sosial tersebut dapat di klarifikasikan dari beberapa sudut atau dasar berbagai kriteria ukuran. George simmel, seorang sosiolog jerman mengambil ukuran besar kecilnya jumlah anggota kelompok, bagaimana individu mempengaruhi kelompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Ia memulai deengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakannya monad. Kemudian monad dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yaitu dyad serta tryad dan kelompok-kelompok kecil lainnya. disamping itu sebagai bahan perbandingan, ditelaahnya pula bebeapa kelompok sosial yang lebih besar.
Ukuran lainnya adalah atas dasar derajat interaksi sosial dalam kelompok sosial tersebut. Beberapa sosiolog memperhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok, dimana anggota-anggotanya saling mengenal (face to face groubings), seperti keluarga, rukun tetangga dan desa dengan kelompok-kelompok soial, dengan kota-kota, korporasi dan negara, dimana anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.